Sabtu, 15 Agustus 2015

Cerpen baru: kakak yang emosianemosian


KAKAK YANG EMOSIAN


Hani, Lina, tolong belikan Ibu buah apel, pir, anggur, jeruk, stroberi di parsel 2 paket, coklat 2 toples dan sirup mangga 1 botol. Ini uangnya. Nanti yang bisa sampai paling cepat akan Ibu beri se-su-a-tu..” Ibu memberi beberapa lembar uang dan seamplop uang kepada Hani dan Lina.“Untuk apa, Bu?” Tanya Lina, yang 3 tahun lebih muda dari pada Hani. Ia masih berumur 7 tahun, tapi sudah rajin membantu orangtua.“Nanti pakde dan bude dari Surabaya akan datang ke mari. Kira-kira 2 jam lagi..” kata Ibu.“Oh..”Hani dan Lina kemudian berjalan menyusuri gang-gang con-block kotak-kotak yang di kanan-kirinya rumah-rumah tetangga. Di tepi gang con-block kotak-kotak itu juga dipenuhi semak dan rerumputan berbunga indah. Mereka berjalan terus. Sesampai di pertigaan jalan kecil namun lebih besar dari gang tadi, mereka berbelok ke kanan. Pertama-tama mereka akan menuju warung buah-buahan Mbak Rinta. Warung itu sangat sederhana.Mereka lalu sampai di depan warung buah Mbak Rinta. Di depan warung kecil itu, terpasang papan kayu kecil bertuliskan, “Warung Buah Mbak Rinta. Jual Buah-Buahan dan Jasa Parsel Buah,”. Warung itu tak lebih dari warung dari kayu biasa. Ukurannya sekitar 3×3 meter dengan papan kayu yang dipasang di depan untuk menaruh buah-buahan segar di dalam keranjang-keranjang. Lantainya cor-block.Di dalam warung bukaan itu ada 2 meja. Meja yang pertama untuk menaruh buah-buahan lain. Meja kedua ada koran, segelas teh yang tinggal separuh dan snack roti-roti keras. Mbak Rinta sedang duduk di kursi sebelah meja kedua sambil membaca koran harian.Mereka berdua lalu membeli buah-buahan dengan jumlah yang ditentukan Ibu. Kemudian mereka ingin Mbak Rinta memparselnya seindah mungkin dengan pita-pita dan bunga. Lalu mereka membayar dan pergi. Hani dan Lina masing-masing membawa satu parsel buah.Lalu mereka berjalan ke arah berlawanan dari sebelumnya. Lurus terus sampai melewati gang rumahnya tetap lurus. Kira-kira 100 meter kemudian mereka sampai di Toko Serba Ada. Di toko biasa itu, mereka lalu membeli coklat dan sirup mangga. Hani sangat ribet dalam memilih merk coklat. Ia bahkan membeli makanan yang tidak diperlukan untuknya sendiri menggunakan uang amplop titipan ibunya. Korupsi. Tapi tentunya Hani tidak akan merasa bersalah ataupun berdosa, karena ia tak tahu.Hani menyuruh Lina membawa parsel buah terberat, kedua toples coklat dan botol berisi sirup mangganya. Sedangkan Hani hanya membawa parsel kecil buah-buahan dan coklat jajanannya yang tidak diperlukan. Lalu Hani memaksa Lina menemani ke toko mainan anak-anak yang agak jauh, walaupun tidak terlalu jauh. Hani akan menggunakan uang sisa membeli bahan keperluan tadi. Padahal Ibu tidak memberi izin apapun untuk jajan.Uang sisa Rp 30.000 habis tak bersisa untuk membeli sepaket boneka Barbie. Isi paket kecil itu adalah boneka Barbie remaja berrambut pirang panjang, berkulit putih, menggunakan dress cantik berkelap-kelip berwarna biru. Siapapun mata anak-anak perempuan yang memandang akan langsung menatap boneka ini tanpa berkedip. Ditambah beberapa aksesori kecil sebesar kuku jari. Seperti mahkota kecil berwarna perak, sepatu hak tinggi, sisir kecil, anjing pudel kecil dan juga mahkota kecil untuk si anjing.Sewaktu di toko mainan, Lina yang melihat kakaknya sudah membayar ke kasir berkata.“Kak, Lina juga mau dong.. Belikan satu aja..” kata Lina memelas dengan kening berkeringat.“Pakai uang kamu sendiri, dong. Makanya, kayak Kakak ini, kerja keras. Jadi bisa dapat uang banyak!” kata Hani dengan nada menyebalkan biasa anak-anak.“Satuuuu.. aja kak..”“Uang kakak udah habis, gara-gara tadi kamu minta dibelikan coklat di toserba!” Padahal, yang dibeli Lina di Toserba adalah sebatang coklat kecil limaratusan.Mintanya sih yang besar dan mahal, tapi Hani melarangnya. Hani bilang, coklat itu cuma boleh dimakan anak 10 tahun ke atas. Kalau di bawah 10 tahun ke atas nanti bisa jadi monyet, siapapun yang memakannya! Sehingga, Hanilah yang membeli banyak coklat mahal itu.Ketika jalan pulang, mereka bisa memotong jalan. Yaitu melewati 2 gang, gang Freesia dan gang Melati. Setiap anak-anak yang berada di kampung ini selalu menganggap angker gang Freesia. Kenapa? Bukan karena hantu! Tapi karena ada Mbah Warto. Setiap anak-anak yang berani mengganggu tidurnya atau mengagetkannya, siap-siap saja, dipukul dengan tongkat, dimarahi ataupun yang paling parah dilaporkan ke pihak kepolisian. Parah.Hani lalu teringat janji Ibu, siapapun yang bisa lebih cepat sampai rumah akan Ibu beri hadiah.“Lin, kita lomba, yuk. Aku lewat gang Melati, kamu gang Freesia!”“Gak mau!”“LINA!”“GAK MAU!!”“Ya udah, kita ping-sut aja.” Kata Hani.“Yang lewat gang Freesia adalah yang ..” Lina dan Hani lalu ping-sut sebelum Hani menyelesaikan kata-katanya. Dan ia menyengajakannya. Lina menang Hani kalah.“yang MENANG!!!”“Yahh…” Lina lalu menyesali kenapa ia harus menunjukkan jari kelingking mungilnya. Padahal, menang ataupun kalah, ia tetaplah harus lewat gang Freesia.“Oke, aku lewat gang Melati, kamu Freesia. Satu, dua, tiga!” Mereka lalu berpisah di dua gang berbeda.Di gang Melati. Hani dengan senang hati berjalan menyusuri rindang dan indahnya gang Melati. Tanpa perlu takut dimarahi Mbah Warto. Yang dipikirkannya sekarang adalah hadiah dari Ibu ia tak perlu lagi khawatir Lina bisa menandingi kecepatannya. Karena Gang Melati jauh lebih pendek daripada gang Freesia.Di gang Freesia. Lina sudah tahu akan siapa itu Mbah Warto. Galak-Pemarah dan yah.. begitulah. Suasananya sunyi senyap. Seakan mencekam. Tak ada teman-teman yang biasanya bermain sambil berteriak riang gembira seperti halnya di gang-gang lain. Sampailah ia di depan rumah Mbah Warto.Mbah Warto sedang mengelap motor tuanya. Lina menunduk melewatinya. Wajah Mbah Warto gelap, menyeramkan, seperti hantu mungkin. Rerumputan di depan rumah mbah Warto sudah layu. Menguning tak lagi segar.“Nduk!!” Panggil Mbah Warto. Lina menengok ke Mbah Warto. Lina dengan takut-takut berjalan ke Mbah Warto.“Nggih, enten menopo, Mbah? (Ya, ada apa, Mbah?)” Tanya Lina dibuat sesopan mungkin.“Arek nyang endi athek gor dewe? (Mau kemana kok cuma sendiri?)”“Ajeng tindak griya (Mau pulang ke rumah),”“Woo, yo ayo tak terke wae. Koe rak sek omahe neng andhinge Lik Santi to? Mumpung aku arep lunga neng omahe lek Santi, koe tak terke sisan. Aku yo pengen umuk motorku neng Lik Santi. (Oh.. ya ayo kuantar saja. Kamu yang rumahnya di samping rumah Lik Santi, kan? Mumpung aku mau ke rumah Lik Santi, kamu kuantar sekalian. Aku juga mau pamer motorku ke Lik Santi)” Beliau lalu tertawa keras sambil menggumamkan kata-kata tak jelas.Yah, begitulah Mbah Warto. Sebetulnya, beliau sangat menyukai dan menyayangi anak-anak. Tapi ia punya penyakit jantung yang parah dan kronis. Jika ia kaget, pertaruhannya adalah nyawanya sendiri.“Nggih. Matur nuwun, Mbah. (Ya, terimakasih mbah..)” kata Lina tetap membungkuk. Mereka langsung melesat ke gang Rosalia, gang rumah Lina dan Hani.Di gang Melati Hani baru sepertiga jalan. “Lina pasti masih jauh di belakangku.” Pikirnya senang penuh kemenangan.3 menit tak ada. Lina sudah sampai di depan rumah. Mbah Warto menuntun motornya beberapa meter menuju rumah Lik Santi.“Matur nuwun sanget, Mbah,” kata Lina lalu masuk rumah.“Assalamualaikum, Bu..”“Sudah pulang, Nduk?”“Iya, diantar sama Mbah Warto,”“Ya, dah bilang terimakasih, belum?”“Sudah,”Lina lalu menyerahkan perbelanjaannya.“Mana Hani, Lin?”“Masih jauh.” Lalu Lina menceritakan secara mendetail sedetil-detilnya cerita dari berangkat sampai pulang. Bahkan ia juga menceritakan semut yang diinjaknya tak sengaja.“Hah Hani beli 4 coklat seharga 20.000 masing-masing?” Ibu berteriak kaget. Lina mengangguk.“Lalu, sisanya?”“Buat beli Barbie keluaran terbaru,” Ibu lalu menjerit.“Ya, Allah..” Ibu mengelus dada menahan sedih. Hani lalu sampai rumah.“Siang, Bu! Mana hadiahnya? Aku sampai lebih awal, kan?” Hani sejenak dengan senang dan santai menatap ibu. Tapi sekejap kemudian kebahagiaannya musnah, melihat Lina sudah terduduk manis di kursi membuka hadiah dari ibu. Isinya setoples permen susu yang amat disukainya.“HANI!” gertak Ibu.“Ap-Apa bu?” Hani langsung takut.“Buat apa saja uang kembalian Ibu? Uang 110.000 itu kan buat Mbak Rinta karena belum lama ada hajatan putranya yang baru saja disunat!.”“Tapi ibu tidak bilang!” sergah Hani keras.“Ibu kan menaruh uang itu di amplop dan sudah Ibu alamati untuk Mbak Rinta!” Ibunya langsung marah. “Hah?” Hani tak percaya.“Kupikir itu bonus buat kami!”“Astaghfirullah..” Ibu langsung terduduk lemas.“Lalu kenapa kau pakai jajan uang di amplop itu?” Ibunya langsung bertanya tajam.“Sudah kubilang, kukira itu bonus,”“Kalau kau kira itu bonus, kenapa kau tak membagikannya ke Lina juga?!”“Aku membelikan Lina!” sanggah Hani keras.“Coklat ini!” Lina juga ikut terlibat. “Jika dibandingkan dengan boneka dan coklat-coklat kakak seperti monster banding semut!”Hani tak bisa menahan emosinya. Ia membanting toples coklat dan barbienya. Ia juga melempar coklat-coklat Honey Flush-nya. Ia berlari ke kamar dan membanting pintu. Ibu langsung terduduk kembali. Ia menahan sedih yang kini memenuhi relung hatinya.Ibunya lalu berkata, “tolong bantu, ya nduk,” katanya pada Lina.“Tatakan coklat-coklat Honey Flush itu. Bungkus menjadi satu paket untuk kita berikan ke tamu-tamu. Dan taruh sirup dan buahnya ke kulkas. Ibu akan menata ruang tamu.”“Ya, bu..” Lina lalu memungut coklat Honey Flush yang mahal itu. Padahal kemasannya juga nggak besar-besar amat.Setelah itu, ia menatanya dan membungkusnya dengan plastik kado bermotif hati yang cantik. Ia juga memasangkan pita kecil berwarna merah jambu terang. Kemudian ia menaruhnya di kulkas.Lina menatap boneka Barbie keluaran terbaru yang dibeli kakaknya tadi. Sangat indah terbungkus box bening yang manis.Sebuah boneka cantik dengan mata mengerling indah berada di dalamnya. Menggunakan aksesoris khas putri-putri kerajaan. Lina sangat menginginkannya. Ia sangat mendambakan boneka cantik itu. Boneka impiannya. Lalu ia mendengar Hani menangis tersedu-sedu di kamarnya. Lina berjalan pelan ke pintu kamar Hani dan mengetuknya.“Kak Hani. Maafin Lina, ya, Kak” kata Lina pelan, namun jelas.“JANGAN BERISIK! PERGI SANA!” gertak Hani sadis.Hati Lina mencelos dalam. Ia memang sudah berulang kali dimarahi kakaknya. Tapi baru kali ini yang paling keras dengan suara terkejam yang pernah didengarnya. Lina ingin menangis. Ia ingin menangis. Emosi kakaknya tersalurkan ke diri Lina dalam bentuk kesedihan mendalam. Hingga akhirnya kesedihan itu tak lagi dapat tertampung dalam hatinya dan keluar sebagai tetesan air mata. Lina berlari ke Ibu yang tengah menata vas-vas bunga terindah yang pernah dilihatnya. Lina merangkul sang Bunda. Ia mendekapnya kencang.“Kenapa, Sayang?”“Kak Hani jahat, Bu” Mata Ibu mengerling kepada Lina. Dilihatnya putri bungsunya itu dengan penuh kasih.“Gak papa, sayang. Hani cuma baru emosi,” Lina mengangguk walaupun ia tak mengerti apa makna kata emosi.Lina lalu melepas dekapannya dan terduduk di sofa. Setengah jam lagi, para tamu akan datang. Tiba-tiba Bapak mengetuk pintu.“Assalamualaikum,” kata Bapak agak keras. Tak menutupi bahwa Hani bisa saja mendengarnya dari kamar. “Waalaikumsalam..” Ibu menjawab. Lina menjawab dengan nada sesenggukan.“Maaf, bu, pulangnya agak telat. Tadi ada pencegatan cek SIM dan BPKB. Ini bapak juga beli biskuit-biskuit” kata Bapak menyerahkan seplastik besar berisi biskuit kaleng, toples, dan plastic aneka bentuk dan rasa.Selain itu ada juga selai, kue-kue, permen, cokelat, susu, yogurt, mayonnaise dan banyak lagi makanan dan minuman berlemak. Tak salah jika Hani bisa segemuk itu.“Loh? Kamu kenapa, nduk?” kata Bapak mengelus kepala Lina.“Kak Hani jahat, Pak..”“Jahat kenapa?” kening Ayah mengerut.Lina yakin Hani akan mendengar percakapannya dengan bapak. Karena kamar Hani bersebelahan dengan ruang tamu. Lina lalu menceritakan secara mendetail seperti ketika ia menceritakannya kepada Ibu tadi. Dilengkapi dengan nada memelas dan cocok untuk mengambil hati orang.“Ya, sudah. Itu sudah terlanjur. Ini, kasih mbak Hani permen,” Bapak menepuk pundak Lina penuh sayang. Lina menerimanya dan berdiri hendak ke kamar Hani.Tapi baru berdiri saja, Hani sudah datang ke mereka dengan wajah gelap dan suram muram. Mata sembab. Hani ikut duduk namun di sofa berbeda.“Beli apa pak? Bawa permen merk Dish Delight nggak?” Tanya Hani muram namun penuh harap dengan nada tak jelas. Bapak lalu mendekati Hani dan mengelus kepala Hani.“Hani, kamu nggak boleh begitu sama adikmu..” Hani tak pernah berani membantah apapun kata-kata Bapak.“Ayo minta maaf,” Hani menurut.Namun dengan ketus dan cuek tanpa menengok ia menjulurkan tangannya ke Lina tanpa minat sedikit pun. Lina menyambutnya dengan genggaman tangan hangat. Namun serta merta Hani langsung menarik tangannya kasar.Bapak lalu menjelaskan ke Hani segala ceramah tentang dosa dari kesalahan Hani. Hani lalu tersadar. Dengan kepala tertunduk. Hani memahami kesalahannya dan meminta maaf pada Lina. Mereka lalu kembali berdamai.Cerpen Karangan: Avis Putri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar