FLUIDA STATIS
Hukum
Utama Hidrostatis
Perhatikanlah
Gambar 1.
|
Gambar
1. Tekanan di titik A, B, C, dan D sama besar, serta tidak bergantung
pada bentuk penampang tempat fluida tersebut.
|
Gambar tersebut memperlihatkan sebuah bejana
berhubungan yang diisi dengan fluida, misalnya air. Anda dapat melihat bahwa
tinggi permukaan air di setiap tabung adalah sama, walaupun bentuk setiap
tabung berbeda. Bagaimanakah tekanan yang dialami oleh suatu titik di setiap
tabung? Samakah tekanan total di titik A, B, C, dan D yang letaknya segaris?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Anda harus mengetahui Hukum Utama
Hidrostatis.
Hukum Utama Hidrostatis menyatakan bahwa semua
titik yang berada pada bidang datar yang sama dalam fluida homogen, memiliki
tekanan total yang sama. Jadi, walaupun bentuk penampang tabung berbeda,
besarnya tekanan total di titik A, B, C, dan D adalah sama.
Persamaan
Hukum Utama Hidrostatis dapat diturunkan dengan memperhatikan Gambar 2
|
Gambar 2. Tekanan total di titik
A dan B pada bejana U yang terisi fluida homogen adalah sama besar, pA = pB.
|
Misalkan, pada suatu bejana berhubungan dimasukkan
dua jenis fluida yang massa jenisnya berbeda, yaitu ρ1 dan ρ2.
Jika diukur dari bidang batas terendah antara
fluida 1 dan fluida 2, yaitu titik B dan titik A, fluida 2 memiliki
ketinggian h2 dan fluida 1 memiliki ketinggian h1.
Tekanan total di titik A dan titik B sama besar.
Menurut persamaan tekanan hidrostatis, besarnya tekanan di titik A dan titik B
bergantung pada massa jenis fluida dan ketinggian fluida di dalam tabung.
Secara matematis, persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut.
pA =
pB
p0 +
ρ1gh1 = p0 + ρ2gh2
ρ1h1=
ρ2h2
dengan:
h1 =
jarak titik A terhadap permukaan fluida 1,
h2 = jarak titik B terhadap permukaan fluida 2,
ρ1 =
massa jenis fluida satu, dan
ρ2 =
massa jenis fluida dua
Hukum Pascal
Dengan menggunakan pompa Pascal dapat
ditunjukkan bahwa: tekanan yang diberikan pada zat cair dalam ruang tertutup
diteruskan ke segala arah dengan sama besar. Pernyataan ini disebut juga Hukum Pascal. Hukum Pascal banyak
digunakan sebagai dasar kerja mesin hidrolik. Dasar kerja mesin hidrolik dapat
dijelaskan seperti gambar 1:
Apabila
penghisap pada penampang A1 ditekan dengan gaya F1, maka penghisap pada penampang A2 timbul
tekanan . Sehingga berlaku hukumnya,
P1=P2
F1:F2=A1:A2
Persamaan diatas menunjukkan bahwa jika
perbandingan luas penampang A2 terhadap A1besar, perbandingan gaya F2 terhadap
gaya F1 juga besar. Hal ini berarti bahwa
dengan gaya kecil yang diberikan pada penghisap kecil akan dihasilkan gaya yang
besar pada penghisap besar
HUKUM ARCHIMEDES
Pada saat kita berjalan atau berlari di dalam air, kita tentunya akan
merasakan bahwa langkah kita lebih berat dibandingkan jika kitamelangkah di
tempat biasa. Gejala ini disebabkan adanya tekanan dari zat cair. Pengamatan
ini memunculkan sebuah hukum yang dikenal Hukum , yaitu :
“Jika sebuah benda dicelupkan ke dalam zat cair, maka benda
tersebut akan mendapat gaya yang disebut gaya apung (gaya ke atas) sebesar
berat zat cair yang dipindahkannya”
Akibat adanya gaya apung, berat benda dalam zat
cair akan berkurang. Benda yang diangkat dalam zat cair akan terasa lebih
ringan dibandingkan diangkat di darat. Jadi, telah jelas bahwa berat benda
seakan berkurang bila benda dimasukkan ke dalam air. Hal itu karena adanya gaya
ke atas yang ditimbulkan oleh air dan diterima benda. Dengan demikian maka
resultan gaya antara gaya berat dengan gaya ke atas merupakan berat benda dalam
air. Selanjutnya berat disebut dengan berat semu yaitu berat benda tidak
sebenarnya karena benda berada dalam zat cair. Benda dalam air diberi simbol WS.
Hubungan antara berat benda di udara (W), gaya ke
atas (Fa) dan berat semu
(Ws) adalah :
Ws = W-Fa
dengan:
Ws = berat benda dalam zat cair (Kg⋅m/s2)
W = berat benda sebenarnya (Kg⋅m/s2)
Fa = gaya apung (N)
W = berat benda sebenarnya (Kg⋅m/s2)
Fa = gaya apung (N)
dan besarnya gaya apung (Fa) dirumuskan sebagai berikut :
Fa = ρcair Vb g
dengan:
ρcair = massa jenis zat cair (kg/m3)
Vb = volume benda yang tercelup (m3)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
Vb = volume benda yang tercelup (m3)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
Benda Dalam Hukum Archimedes
Bila benda dicelupkan ke dalam zat cair, maka ada 3 kemungkinan yang
terjadi yaitu tenggelam, melayang, dan terapung.
1. Benda Tenggelam
Benda
disebut tenggelam dalam zat cair apabila posisi benda selalu terletak pada
dasar tempat zat cair berada.
Pada benda
tenggelam terdapat tiga gaya yaitu :
W = gaya berat benda
Fa = gaya archimedes
N = gaya normal bidang
Fa = gaya archimedes
N = gaya normal bidang
Dalam keadaan seimbang maka W = N + Fa sehingga :
W > Fa
m . g > ρZC . Vb . g
ρb . Vb . g > ρZC . Vb . g
m . g > ρZC . Vb . g
ρb . Vb . g > ρZC . Vb . g
ρb >
ρzc
ρb = massa jenis benda
ρZC = massa jenis zat cair
ρZC = massa jenis zat cair
2. Benda Melayang
Benda
melayang dalam zat cair apabila posisi benda di bawah permukaan zat cair dan di
atas dasar tempat zat cair berada.
Pada benda melayang terdapat dua gaya yaitu: Fa dan W. Dalam keadaan seimbang maka :
W = Fa
ρb . Vb . g = ρZC . Vb . g
ρb . Vb . g = ρZC . Vb . g
ρb = ρzc
3. Benda Terapung
Benda
terapung dalam zat cair apabila posisi benda sebagian muncul dipermukaan zat
cair dan sebagian terbenam dalam zat cair.
Pada benda
terapung terdapat dua gaya yaitu :Fa dan W. Dalam keadaan seimbang maka :
W = Fa
ρb . Vb . g = ρZC . V2 . g
ρb . Vb = ρZC . V2
ρb . Vb . g = ρZC . V2 . g
ρb . Vb = ρZC . V2
karena Vb > V2 maka : ρb < ρZC
Peristiwa Kapilaritas
Gejala kapilaritas adalah peristiwa naik atau turunnya zat cair di dalam pipa
kapiler (pipa sempit). Kapilaritas dipengaruhi oleh adanya gaya kohesi dan
adhesi antara zat cair dengan dinding kapiler. Karena dalam pipa kapiler gaya
adhesi antara partikel air dan kaca lebih besar daripada gaya kohesi antara
partikel-partikel air, maka air akan naik dalam pipa kapiler. Sebaliknya raksa
cenderung turun dalam pipa kapiler, jika gaya kohesinya lebih besar daripada
gaya adhesinya.
(a) Jika sudut kontak kurang dari 90°, maka permukaan zat
cair dalam pipa kapiler naik
(b) jika sudut kontak lebih besar dari 90°, maka permukaan
zat cair dalam pipa kapiler turun.
Gejala
Kapilaritas
Kenaikan atau penurunan zat cair pada pipa kapiler
disebabkan oleh adanya tegangan permukaan (γ) yang bekerja pada keliling persentuhan zat cair dengan pipa.
Mengapa permukaan zat cair bisa naik
atau turun dalam permukaan pipa kapiler? Gambar diatas menunjukkan zat cair
yang mengalami meniskus cekung. Tegangan permukaan menarik pipa ke arah bawah
karena tidak seimbang oleh gaya tegangan permukaan yang lain. Sesuai dengan
hukum III Newton tentang aksi reaski, pipa akan melakukan gaya yang sama besar
pada zat cair, tetapi dalam arah berlawanan. Gaya inilah yang menyebabkan zat
cair naik. Zat cair berhenti naik ketika berat zat cair dalam kolam yang naik
sama dengan gaya ke atas yang dikerjakan pada zat cair.
w = F
Jika massa jenis zat cair adalah
ρ, tegangan permukaan
γ, sudut kontak
θ, kenaikan zat cair setinggi h, dan jari-jari pipa kapiler adalah r, maka berat zat cair yang naik dapat ditentukan melalui persamaan berikut.
w = m g
w =
w =
ρ V g
w =
[1]ρ π r2 h g
Komponen
gaya vertikal yang menarik zat cair sehingga naik setinggi h adalah:
F [1] =(γ [1]
cos θ) (
[1]2[1] π r)
= F [1]= 2[1] π r
γ cos θ
Jika nilai F kita ganti dengan
[1]ρ π r2 h g, maka persamaannya menjadi seperti berikut.
Keterangan:
h : kenaikan/penurunan zat cair dalam pipa (m)
γ
γ
: tegangan permukaan N/m
θ
: sudut kontak (derajat)
ρ
: massa jenis zat cair (hg/m3)
r : jari-jari pipa (m)
Gejala kapilaritas banyak dimanfaatkan dalam kehidupan
sehari-hari. Misalnya, naiknya minyak tanah melalui sumbu kompor, pengisapan
air oleh tanaman (naiknya air dari akar menuju daun-daunan melalui pembuluh
kayu pada batang) dan peristiwa pengisapan air oleh kertas isap atau kain.
Selain menguntungkan gejala kapilaritas ada juga yang merugikan misalnya
ketika hari hujan, air akan merambat naik melalui pori-pori dinding sehingga
menjadi lembap. Dinding yang lembab terjadi karena gejala kapilaritas.
Peristiwa Tegangan Permukaan
Beberapa observasi menunjukkan bahwa permukaan zat cair berprilaku seperti
membran yang teregang karena tegangan. Sebagai contoh setetes air di ujung
keran menetes atau air yang tergantung dari dahan kecil pada embun pagi hari
yang membuat bentuk hampir bulat seperti balon kecil yang berisi air.
Pada gambar diatas, permukaan zat cair berperilaku seakan-akan mengalami
tegangan, dan tegangan ini yang bekerja sejajar dengan permukaan yang muncul
dari gaya tarik antar molekul. Efek ini dikarenakan adanya tegangan permukan.
Tegangan Permukaan zat cair adalah kecendrungan permukaan zat cair untuk
menegang sehingga permukaannya seperti ditutupi oleh suatu lapisan elastis.
Perhatikan yang ditunjukkan pada gambar 1.13 dibawah ini:
Pada permukaan zat cair pada umumnya, air pada khususnya adanya
gaya-gaya antara partikel atau antara molekul suatu zat, yaitu gaya kohesi dan
gaya adhesi.
·
Gaya kohesi ialah gaya tarik-menarik antara
partikel atau molekul sejenis.
·
Gaya adhesi ialah gaya tarik-menarik antara
partikel atau molekul yang tidak sejenis.
Partikel A dan partikel B dalam sebuah wadah zat
cair. A mewakili partikel dalam zat cair, sedangkan B mewakili partikel di
permukaan zat cair seperti gambar 1.14. Partikel A ditarik oleh gaya yang sama
besar ke segala arah oleh partikel-partikel didekatnya. Sebagai hasilnya,
resultan gaya pada partikel-partikel di dalam zat cair (diwakili oleh A) adalah
sama dengan nol, dan di dalam zat cair tidak ada tegangan permukaan. Sementara
partiel B ditarik oleh partikel-partikel yang ada di samping dan dibawahnya dengan
gaya-gaya yang sangat besar, tetapi B tidak di tarik oleh partikel-partikel di
atasnya karena di atas B tidak ada partikel zat cair. Sebagai hasilnya,
terdapat resultan gaya kearah bawah yang bekerja pada permukaan zat cair.
Resultan gaya menyebabkan permukaan zat cair menjadi tegang. Sifat tegangan
permukaan ini disebut tegangan
permukaan.
Tegangan permukaan dapat didefinisikan sebagai
perbandingan antara gaya tegangan permukaan (F) per satuan panjang d dimana
gaya itu bekerja :

Keterangan
:
Satuan tegangan permukaan = Newton / meter = J/m2
F = gaya
tegangan permukaan
γ =
tegangan permukaan
d =
panjang permukaan
Gambar 1.15 Tegangan permukaan pada kawat L oleh
dua permukaan












