Sabtu, 19 Desember 2015

ASAL PERMUSUHAN BONEK VS AREMA

bonek vs aremania

asal usul berdirinya arema dan juga asal berdirinya kota malang tempo doeloe sekarang ane berikan sedikit informasi tentang asal mula oerseteruan BONEK vs AREMABerdirinya Armada 86 hingga berevolusi
menjadi PS Arema pada tahun 1987
membuat konflik semakin memanas.Dalam
kompetisi Perserikatan, Persema dan
Persebaya sudah memanaskan suhu
konflik antar-suporter di Jawa Timur. Dengan hadirnya Arema yang mengikuti
kompetisi Galatama, suhu itu kian memanas
dengan rivalitas Arema dan Niac Mitra
Surabaya. Semifinal Galatama tahun 1992
yang mempertandingkan PS Arema
Malang melawan PS Semen Padang di stadion Tambaksari Surabaya
menghadirkan awalan baru sejarah konflik
Aremania-Bonek.
Arek Malang (saat itu
belum bernama Aremania) membuat ulah
di Stasiun Gubeng pasca kekalahan Arema
Malang dari Semen Padang. Kapolda Jatim saat itu akhirnya mengangkut mereka
dalam 6 gerbong kereta api untuk
menghindari kerusuhan dengan Bonek.
Kejadian di Stasiun Gubeng itu membuat
panas Bonek yang ada di Surabaya.
Tindakan balasan mereka lakukan dengan mencegat dan menyerang rombongan
Aremania pada akhir tahun 1993 saat akan
melawat ke Gresik. Peristiwa ini dibalas oleh
Aremania pada tahun 1996 dengan
melakukan lawatan ke Stadion Tambaksari
dengan pengawalan ketat DANDIM. Keberanian Aremania untuk hadir di
Stadion Tambaksari kala pertandingan
Persebaya melawan Arema saat itu telah
membuat Bonek tidak bisa berbuat apa-
apa dan harus menahan amarah mereka
dengan cara menghina Aremania lewat kata-kata saja. Hal ini karena pertandingan
tersebut disaksikan oleh para petinggi PSSI
dan gubernur Jawa Timur saat itu, serta
pengawalan ketat DANDIM kota Malang
terhadap Aremania. Bagi Aremania, hal ini
sudah sangat mempermalukan Bonek dengan datang langsung ke jantung
pertahanan lawan sembari menunjukkan
kesantunan Aremania dalam mendukung
tim kesayangan. Semenjak itulah tidak ada
kata damai dari Bonek kepada Aremania,
dan Aremania sendiri juga menyatakan siap untuk melayani Bonek dengan kekerasan
sekalipun. Kejadian ini dibalas oleh Bonek di
Jakarta pada tahun 1998. Tanggal 2 Mei
1998 dimana Aremania akan hadir dalam
pertandingan Persikab Bandung vs Arema
Malang, Aremania yang baru turun dari kereta di Stasiun Jakarta Pasarsenen
diserang oleh puluhan Bonek. Ketika itu
rombongan Aremania yang berjumlah
puluhan orang menaiki bus AC yang sudah
disiapkan oleh Korwil Aremania Batavia. Di
tengah jalan, belum jauh dari Stasiun Pasar Senen tiba-tiba bus yang ditumpangi
Aremania dihujani batuan oleh Bonek.
Untuk menghindari jatuhnya korban,
rombongan Aremania langsung turun dari
bus untuk melawan Bonek yang
menyerang mereka. Bahkan Aremania sampai mengejar-ngejar Bonek yang ada di
Stasiun Pasarsenen. Tindakan Aremania ini
mendapat applaus dari warga setempat,
sehingga Bonek harus mundur
meninggalkan area Stasiun Pasarsenen.
Kondisi rivalitas yang begitu panas antara Aremania dan Bonek membuat keduanya
menandatangi nota kesepakatan bahwa
masing-masing kelompok suporter tidak
akan hadir ke kandang lawan dalam laga
yang mempertemukan Arema dan
Persebaya. Nota kesepakatan yang ditandatangani oleh Kapolda Jatim
bersama kedua pemimpin kelompok
suporter tersebut ditandatangani di Kantor
Kepolisian Daerah Jawa Timur pada tahun
1999. Semenjak tahun 1999, maka kedua
elemen suporter ini tidak pernah saling tandang dalam pertandingan yang
mempertemukan kedua klub kesayangan
masing-masing. Tetapi nota kesepakatan itu
tidak mampu meredam konflik keduanya.
Tragedi Sidoarjo yang terjadi pada bulan
Mei 2001 menunjukkan masih adanya permusuhan kedua elemen ini. Kala itu
pertandingan antara tuan rumah Gelora
Putra Delta (GPD) Sidoarjo melawan
Arema Malang di Stadion Delta Sidoarjo
dalam lanjutan Liga Indonesia VII. Karena
dekatnya jarak Surabaya-Sidoarjo membuat sejumlah Bonek hadir dalam
pertandingan tersebut. Menjelang pertandingan dimulai, batu-batu
berterbangan dari luar stadion menyerang
tribun yang diduduki oleh Aremania. Kondisi
ini membuat Arema meminta kepada
panpel untuk mengamankan wilayah luar
stadion. Karena lemparan batu belum berhenti membuat Aremania turun ke
lapangan, sementara di luar stadion justru
terjadi gesekan antara Bonek dengan
aparat. Turunnya Aremania ke lapangan
pertandingan membuat pertandingan
dibatalkan. Terdesaknya aparat keamanan yang kewalahan menghadapi Bonek
membuat Aremania membantu aparat
dengan memberikan lemparan balasan ke
arah Bonek. Aremania pun harus
dievakuasi keluar stadion dengan truk-truk
dari kepolisian. Kejadian rusuh yang berkaitan antara Aremania dengan Bonek
masih berlanjut pada tahun 2006.
Kekalahan Persebaya Surabaya atas
Arema Malang di stadion Kanjuruhan dalam
laga first leg Copa Indonesia membuat
kecewa Bonek di Surabaya. Seminggu kemudian, kegagalan Persebaya Surabaya
mengalahkan Arema Malang di stadion
Gelora 10 November Tambaksari Surabaya
membuat Bonek mengamuk. Laga yang
berkesudahan 0-0 ini harus dihentikan
pada menit ke-83 karena Bonek kecewa dengan kekalahan Persebaya dari Arema
Malang. Kekecewaan ini mereka
lampiaskan dengan merusak infrastruktur
stadion, memecahi kaca stadion, dan
merusak beberapa mobil dan kendaraan
bermotor lain yang ada di luar stadion. ANTV yang menayangkan pertandingan
tersebut meliputnya secara vulgar, bahkan
berkali-kali menunjukkan gambar rekaman
mengenai mobil ANTV yang dirusak oleh
Bonek. Aremania menyikapi hal ini dengan
menyerahkannya secara total kepada pihak berwajib dan PSSI. Rivalitas
keduanya tidak hanya hadir lewat
kerusuhan dan peperangan, tetapi juga
dengan nyanyian-nyanyian saat
mendukung tim kesayangannya.
Bonekmania, di kala pertandingan Persebaya melawan tim manapun, pasti
akan menyanyikan lagu-lagu yang
menghina Arema dan Aremania. Lagu-lagu
yang menyebutkan Arewaria, Arema Banci,
Singo-ne dadi Kucing, dan beberapa lagu
lain kerap mereka nyanyikan di Stadion Gelora 10 November Tambaksari
Surabaya. Hal yang sama juga dilakukan
oleh Aremania, dimana lagu-lagu anti-
Bonek juga mereka kumandangkan kala
Arema menghadapi tim lain di Stadion
Kanjuruhan. Bahkan persitiwa terbaru adalah tersiarnya kabar mengenai
dikepruknya mobil ber-plat N ketika malam
tahun baru di Surabaya oleh pemuda
berkaos hijau (oknum Bonek?) Atmosfir Malang – Surabaya Seperti yang ditulis oleh Feek Colombijn
dalam View from The Periphery: Football in
Indonesia, dimana ia menyebut bahwa
dinamika suporter di Indonesia sangat
dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa. Kultur
Jawa yang mengutamakan keselarasan dalam harga diri, dimana penolakan yang
amat sangat terhadap hal yang bisa
mempermalukan diri sendiri, menjadi faktor
utama konflik antar suporter di Indonesia.
Kultur Jawa yang menghindar dari konflik
dan tidak mau dipermalukan menjadi semacam dari anti-thesis dari sepakbola
yang harus siap sedia untuk dipermalukan.
Tetapi kultur Jawa pula yang memicu reaksi
apabila penghinaan itu terjadi di depan
umum dan sangat memalukan, maka
ekspresi kemarahan dan anarkisme yang muncul untuk menjaga wibawa dan harga
diri. Kondisi ini yang memicu atmosfir panas
Malang–Surabaya. Geng pemuda asal
Malang yang dibantai oleh Bonek di tahun
1967 memicu perasaan dendam dari Arek
Malang. Belum lagi persoalan rivalitas “number one”, dimana dalam level propinsi
posisi Malang masih dibawah Surabaya.
Sifat tidak terima Arek Malang menjadi
nomor dua dibawah Arek Suroboyo ini
membuat keduanya susah berjabat tangan.
Persaingan atas dasar pride ini berlanjut pasca melorotnya prestasi Persema
Malang, dimana Arema mengambil alih
posisi rivalitas Malang-Surabaya tersebut.
Pergulatan harga diri ini terlihat jelas ketika
Aji Santoso pindah dari Arema ke
Persebaya, akhirnya Aji Santoso pun dianggap pengkhianat oleh Aremania.
Ketika Aji Santoso ingin kembali ke Malang,
ia pun harus melalui begitu banyak tim
sebelum akhirnya mengakhiri karirnya
bersama Arema Malang. Ahmad Junaedi
pun menjadi korban rivalitas Aremania- Bonek. Ketika Ahmad Junaedi sudah
menjadi bintang sepakbola nasional dan
dibeli Surabaya, maka ketika Persebaya
menawarkan Ahmad Junaedi untuk
kembali ke Arema pun ditolak oleh
Aremania. Akhirnya Arema pun lebih memilih untuk mengasah bakat Johan
Prasetyo daripada memakai tenaga Ahmad
Junaedi . Dalam hal simbol pun tantangan
kepada Bonek juga dikumandangkan.
Dengan pemilihan simbol singa
menunjukkan bahwa di belantara Jawa Timur Arema ingin menjadi nomor satu,
diatas Ikan Sura dan Buaya. Arema
menjadi identitas resistensi daerah terhadap
pusat (Surabaya) , dimana melalui dialek
jawa timur dengan tatanan huruf yang
dibalik pada osob kiwalan khas Malang seolah menunjukkan bahwa Arema
menjadi identitas kultural masyarakat
Malang. Selain itu Arema juga merupakan
pemersatu warga kota Malang yang
sebelumnya terpecah pada beberapa
desa/wilayah/daerah. Arek Malang selalu berusaha membedakan dirinya dengan
arek Suroboyo. Ketika arek Suroboyo itu
bondho nekad, maka arek Malang itu
bondho duwit. Ketika Bonek itu suka
membuat kerusuhan, maka Aremania ingin
menyebarkan virus perdamaian. Konflik identitas juga menjadi lahan rivalitas kedua
kubu suporter besar Jawa Timur ini.

Kamis, 19 November 2015

Dulu


Dulu kita tak begini
Tapi kini kita seperti ini
Dulu kita tak berbeda
Tapi kini kita terbelah

Dulu kita tertawa tawa
Tapi kini kita selalu menangis
Dulu kita begitu bebas
Tapi kini kita terhempas

Dulu aku !! kita dan dia
Dulu kita dan dia satu
Tapi kini kita tak menyatu ,,, bagai !!
Kabut hitam kini semakin beku

Semua telah berubah
Dulu hari ini dan esok
Dulu masih ada kedamaian untuk kita
Tapi kini semua kian berubah

Hari ini mulai ku rindukan
Kedamaian itu kembali dalam hati ku
Dan menyimpan nya selalu
Untuk hari esok

Karena dia kita begini
Karena dia puisi ini

Rabu, 11 November 2015

LUKISAN HATI


Oleh Arief DarmawanAku ingin pulang kepada hati yg kucintaitapi aku harus menunggu,di setiap heningku tak pernah lelah kau menemanikuwalau itu hanya bayang-bayang senyummu yg bila kusentuh senyum itu pergiDi setiap matahari pergi, s'lalu saja terlihat saat kau berpaling dan berjalan meninggalkankuaku ingin bertahan untuk orang yang kucintaikarena kupikir tak mungkin hanya sebatas ini cintakuKunikmati kesepian-kesepian inidengan nada, dengan mimpi, juga dengan kenanganmubiar saja rindu ini hidup di dasar hatimenunggu sampai waktu yang panjang menegurnyasampai ia menemui apa yang ia inginkan, apa yang ia rinduTelah kubingkai namamu, lihatlah sangat indah di dalam hatidan perpisahan ini tak mampu merusaknya sama sekalisuatu hari nanti jika kita bersatu lagi, kan kubacakan puisi ini untukmudan jika tidak, kan kubacakan sajak ini pada matahari di senja hari, atau pada bulan yang s'lalu menanti ...ini hanya sekedar lukisan hatiku saat ini, dan entah seperti apa di suatu hari  

Jumat, 06 November 2015

Cerpen MATA PELANGI

Gadis kecil itu duduk di teras rumah seorang diri. Tidak ada ayah ataupun nenek yang menemaninya kali ini. Hujan masih turun membasahi halaman rumah. Taman. Bunga. Pohon-pohon. Ayunan. Semua basah. Gadis kecil itu mengayunkan kaki mungilnya bermain air hujan. Sesekali ia tersenyum kecil merasakan dinginnya air hujan.
“Senja ayo masuk. Hujan.” Seorang ibu setengah baya keluar dari dalam rumah.
“Tapi, nek Senja pengen lihat pelangi.” Gadis kecil bernama Senja itu masih bermain air hujan, tak menghiraukan ajakkan neneknya.
“Lihat pelanginya di dalam saja ya.”
“Gak mau. Senja pengen lihat pelangi di sini.” Senja protes.
“Ya sudah. Tapi gak boleh hujan-hujan ya.” Neneknya mengalah. Meninggalkan Senja sendiri.
Hari mulai sore. Langit menyisakan titik-titik hujan. Matahari malu-malu mengintip dari balik awan. Sebuah mobil sedan memasuki garasi rumah. Seorang laki-laki muda keluar dari dalam mobil. Ia berlari menghindari hujan menuju teras rumah. Senja tersenyum riang melihat laki-laki muda itu.
“Ayah!” Senja berlari memeluk ayahnya yang basah kuyup.
Ayahnya membalas senyum putri kecilnya itu.
“Iya sayang. Kok anak ayah di luar. Kan lagi hujan. Nanti anak ayah masuk angin.” Ayahnya memeluk senja erat.
“Enggak ayah. Senja kan kuat. Senja lagi liat pelangi, tapi… pelanginya belum datang. Apa pelangi marah sama Senja yah?” Senja mengangkat kedua tangannya kemudian memandangi langit yang mulai berwarna biru cerah. Masih ada titik hujan di sana.
“Marah sama senja? Memangnya anak ayah nakal ya?”
“Tadi siang Senja mukul Rendi yah.” Senja tertunduk, takut ayahnya akan memarahi dirinya juga seperti Bu Sinta, gurunya di sekolah.
“Anak ayah kok gitu, kayak preman aja. Memangnya kenapa Senja mukul Rendi.”
“Habis Rendi jahat banget sama Rini, teman sebangku Senja. Masak bukunya Rini dibuang-buang yah. Senja kan gak suka. Makanya Senja pukul Rendi.” Senja mengepalkan tangan kanannya dan seperti seorang petinju ia memukul udara dengan tangan mungilnya itu.
“Senja sayang. Gak boleh gitu. Walaupun orang lain jahat sama kita, kita gak boleh membalasnya dengan kejahatan juga. Kita menganggap mereka itu jahat, tapi kita berbuat seperti mereka. Lalu, apa bedanya kita dengan mereka. Senja mengerti maksud ayah?” Ayah Senja menatap mata Senja. Bola mata berwarna coklat yang indah. Bibir mungil itu hanya manyun saja.
“Pokoknya ayah gak mau denger anak ayah berantem atau mukul orang. Anak ayah kan gadis kecil yang manis, pinter dan baik bukan preman. Mereka mungkin memang salah karena menyakiti kita tapi bukan menjadi hak kita untuk membalasnya, sayang.” Ayah senja melanjutkan.
“Tapi yah… aku kan cuma mau belain Rini aja yah. Memang salah ya?” Senja protes.
Ayah senja memandangi putri kecilnya itu. Waktu begitu cepat berlalu hingga tidak terasa sekarang Senja sudah besar. Usianya memang baru menginjak lima tahun tapi cara berfikirnya terkadang seperti orang dewasa. Kepergian ibu Senja empat tahun silam mungkin akan menjadi luka terdalam bagi Ayah Senja namun ia harus tetap kuat demi Senja, buah hatinya.
“Gak salah kalau Senja mau membela Rini tapi bukan dengan cara memukul Rendi. Kan Senja bisa bilang ke bu guru.”
Senja tertunduk merasa bersalah. “Lalu Senja harus bagaimana yah?”
“Besok Senja harus minta maaf sama Rendi. OK?”
“OK deh. Maafin Senja ya yah soalnya Senja udah bikin ayah marah.”
“Iya sayang. Tapi jangan diulangi lagi ya.” Ayah senja mengelus pipi Senja dengan lembut. Senja mengangguk pasti.
Sebuah pelangi terlukis indah di langit senja. Lengkungnya jatuh di atas pepohonan yang basah. Tetesan hujan di ujung dedaunan nampak seperti kristal-kristal yang bersinar diterpa cahaya matahari.
Senja menarik lengan baju ayahnya, “Ayah lihat itu. Pelangi. Indah ya yah.” Pekik Senja. Ayah Senja hanya mengangguk setuju.
“Emmm, ayah. Apa Ibu juga ada di sana?” Senja menunjuk pelangi di atas sana. Seolah berharap ibunya juga melihatnya disini.
“Iya, sayang.” Ayah Senja menjawab datar.
“Apakah ibu juga melihat Senja?”
“Ibu melihat Senja dari balik pelangi itu. Mata pelangi.” Ayah Senja menunjuk pada pelangi yang tersenyum hangat ke arah mereka.
“Mata Pelangi? Apa itu yah?” Senja penasaran.
“Mata Ibumu seperti pelangi. Indah sekali.”
“Benarkah yah?”
Ayah Senja tersenyum, “Iya sayang. Mata pelangi ibumu ada di matamu juga Senja.” Ayah Senja membelai lembut pipi mungil Senja.
“Mata pelangi? Berarti ibu ada di balik pelangi itu ya yah?” Senja menunjuk pelangi yang melengkung indah di atas pepohonan hijau.
Ayah Senja mengangguk untuk yang kesekian kalinya.
Ayah dan anak itu terus memandangi pelangi di atas sana dan berharap orang yang mereka sayang pun melihat mereka. Merasakan juga rasa rindu yang membuncah di dalam hati mereka. Sang pelangi membalas dengan warna tubuhnya yang bersinar terang di angkasa.
Langit malam semakin gelap. Dingin menyeruak masuk ke dalam tiap sudut rumah. Senja tertidur pulas di samping neneknya. Mata mungilnya tertutup rapat dan kedua tangannya erat memeluk boneka kelinci kesayangannya. Jam di dinding kamar menunjuk pada angka sembilan. Rio, ayah senja masih terjaga di ruang kerjanya. Matanya fokus memandangi layar komputer. Jemarinya dengan lincah mengetik. Sesekali Rio menguap karena mengantuk. Jemarinya menggerakkan mouse mengklik folder bertuliskan “Cinta”. Foto-foto perempuan berjilbab muncul di layar komputer. Senyumnya merekah. Sesosok bayi mungil tertidur pulas dalam pangkuannya. Dia Febri, ibu Senja. Air bening membuyarkan pandangan Rio. Memaksa untuk tumpah. Rio menghapus air bening itu dengan punggung tanggannya.
“Waktu begitu cepat berlalu sayang hingga tanpa ku sadari, Senja, buah hati kita menjadi perempuan kecil yang cantik seperti dirimu, sayang. Aku merindukanmu. Juga Senja. Apa Kau merindukan kami? Bahagiakah kau di sana? Kami memiliki kebiasan baru, sayang. Saat rindu menyergap hati, kami memandangi pelangi di balik rintik hujan. Senja yang mengusulkan itu. Aku setuju saja. Anak itu semakin hari semakin mirip denganmu, sayang. Manjanya, senyumnya, marahnya dan matanya. Mata pelangi milikmu ada padanya. Tiap kali aku menatapnya, aku merasa kau ada di sana. kau memang akan tetap selalu ada dan hidup, di hati kami.”
“Rio, bangun Rio. Rio.” Seseorang mengetuk pintu kamar. Rio terjerembab kaget. Dengan gontai ia membuka pintu. Ibu Rio berdiri dengan gusar di depan pintu kamar.
“Rio, Senja.” Ibu paruh baya itu menunjuk-nunjuk kamar Senja.
“Senja kenapa bu?” Rio panik tapi ia berusaha tetap tenang.
“Nafasnya… sesak.” Ibu Rio terbata. Rio berlari menuju kamar Senja. Pintu kamar terbuka. Bik Sumi duduk di samping Senja. Wajahnya panik.
“Tuan, non Senja tuan.” Rio melemparkan pandang. Dilihatnya Senja mengejang. Nafasnya naik-turun. Rio mendekat. Tubuh Senja juga panas. Rio meraih handphone yang tersimpan di saku celananya. Dengan gesit ia memencet nomor, menghubungi seseorang. Beberapa detik kemudian terdengar suara laki-laki dari seberang.
“Hallo, Dok. Maaf mengganggu waktu istirahat dokter. Senja badannya panas. Nafasnya juga sesak. Apa dokter bisa datang ke rumah?”
Diam sejenak di seberang.
“Iya dok. Saya tunggu. Terima kasih.” Terputus.
Lima belas menit kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Rio meminta bik Sumi membuka pintu. Dokter Andi masuk ke kamar Senja kemudian. Di tangannya sebuah tas hitam mengkilat berisi berbagai peralatan kedokteran. Dengan cekatan Dokter Andi memeriksa Senja. Rio memandang bergantian, Dokter Andi dan Senja. Kegelisahan menyusup ke dalam hatinya.
Jangan kau ambil Senja Tuhan. Aku mohon. Rio berdialog pada Sang Pencipta. Memohon agar Ia mengizinkan Senja tetap bersamanya, menemani hari-harinya.
Dokter Andi mengajak Rio keluar kamar.
“Maaf pak. Kondisi Senja sangat kritis. Suhu badannya tinggi. Harus segera dibawa ke rumah sakit. Lebih cepat lebih baik.” Dokter Andi menepuk pundak Rio kemudian berpamitan pulang.
Hari ke tujuh. Rumah Sakit Kasih Ibu ruang melati. Senja masih belum sadar sejak tujuh hari yang lalu. Sejak Dokter Andi menyarankan pada Rio, Senja segera dibawa ke Rumah Sakit. Raut muka yang pucat itu menyunggingkan sedikit senyum. Hanya sedikit. Bik Sumi duduk di sebelah Senja dengan tangan menyangga kepala yang terasa berat. Letih yang sangat, mengendap di tubuhnya yang mulai menua. Langit terlihat muram. Angin dingin membawa dedaunan kering terbang tanpa arah. Meski mendung, belum ada tanda hujan akan segera turun. Rio memasuki ruangan. Bik Sumi akhirnya tertidur di samping Senja. Rio membangunkan bik Sumi.
“Bik Sum, malam ini biar saya saja yang menjaga Senja. Bik Sumi bisa istirahat di rumah.” Rio tersenyum meski sedikit dipaksakan. Bik Sumi mengangguk dan berpamitan pulang. Rio memandangi Senja yang masih terlelap dalam tidur panjangnya. Tangannya lembut mengelus rambut Senja. Setitik air meleleh di pipi Rio. Rio membiarkannya tidak berusaha menghapus airmata yang sudah membasahi kedua matanya. Mendung di luar semakin pekat. Titik-titik hujan berbarengan turun membasahi tanah, pepohonan, parkiran, tenda para pedagang kaki lima dan yang lainnya. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh melindungi diri dari hujan. Rio memejamkan mata. Mendengarkan nyanyian hujan yang semakin deras. Punggungnya bersandar pada kursi. Hati dan pikirannya mengembara.
Waktu melaju begitu cepat. Langit semakin gelap namun hujan belum ingin beranjak pergi. Membawa tiap jiwa tenggelam dalam mimpi. Terlihat cahaya yang sangat terang. Rio melangkahkan kaki menyusuri padang ilalang. Menoleh ke kanan ke kiri. Tak ada seorang pun. Rio tetap terus melangkah. Terdengar suara orang di bawah pohon besar yang berada tak jauh dari tempat Rio berdiri. Rio mendekat. Seorang perempuan muda sedang bermain dengan seorang gadis kecil. Mereka tampak bahagia, senyum mereka merekah. Gadis kecil itu menoleh ke arah Rio.
“Ayah.” Panggil gadis itu.
Rio mencoba mengenali wajah dan suara itu.
“Senja.” Rio berkata pelan. Gadis kecil itu sudah berdiri di depan Rio.
“Itu ibu yah.” Senja menunjuk perempuan yang tadi berdiri di bawah pohon dan sekarang berjalan mendekati mereka.
“Febri.” Rio tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Orang yang selalu ia rindukan, sekarang berdiri dengan senyum indah merekah. Mata pelangi itu masih tetap sama.
“Senja, kita harus pergi sekarang.” Febri meraih tangan mungil Senja. Senja menganguk, menurut.
“Daa ayah.” Senja melambaikan tangan pada ayahnya.
“Tunggu. Kalian mau kemana? Senja di sini saja. Sama Ayah. Kemari sayang.” Rio mencegah.
“Tidak Rio. Senja ikut bersamaku. Jaga dirimu baik-baik. Selamat tinggal.” Febri tersenyum.
“Ayah jangan sedih. Senja sama ibu gak kemana-mana kok. Ayah bisa lihat senja juga ibu di balik pelangi indah itu. Daaa ayah.” Senja menunjuk pelangi yang melengkung indah di atas langit biru yang cerah. Rio terus memanggil Senja memintanya tinggal bersamanya namun mereka telah hilang bersama pudarnya cahaya indah pelangi. Rio tersadar. Keringat dingin memenuhi seluruh tubuhnya. Pukul dua dini hari.
“Ayah, dingin ayah. Dingin. Dingin. Dingin yah.” Wajah Senja pucat pasi. Rio dengan sigap menyelimuti tubuh Senja.
“Masih dingin sayang?” Rio mulai cemas. Senja mengangguk pelan. Rio mengeluarkan selimut yang tadi sempat dia ambil dari rumah. Senja masih menggigil. Tubuhnya panas tinggi. Rio memanggil dokter Andi.
“Tolong dok. Selamatkan putri saya dok.”
“Bapak tenang dulu. Lebih baik bapak menunggu di luar. Biar saya periksa Senja dulu.”
Satu jam yang sangat mencekik. Rio mondar-mandir di ruang tunggu rumah sakit. Berkali-kali kepalanya menengok ke dalam. Dokter Andi masih sibuk memeriksa. Udara menjadi sangat dingin. Seakan menyergap semua harapan dan kebahagiaan. Dokter Andi keluar dan menutup pintu pelan.
“Bagaimana dok?” Rio semakin cemas melihat ekspresi wajah dokter Andi saat keluar dari ruangan.
“Mohon maaf pak. Senja tidak tertolong. Saya minta maaf. Saya sudah berusaha semampu saya. Semoga bapak bisa tabah menghadapi kenyataan ini.” Dokter Andi menepuk pundak Rio dan berlalu pergi. Kaki Rio tiba-tiba saja terasa hilang. Tubuhnya tumbang terjatuh ke lantai. Tangisnya pecah. Hatinya menolak kenyataan bahwa Senja telah pergi. Tertatih Rio berusaha bangkit. Matanya nanar memandang Senja yang terbujur kaku di atas ranjang. Kedua mata itu tertutup rapat. Rio memanggil Senja berharap Senja akan menjawab dan memanggil namanya. Namun Senja tetap diam tak bergerak.
Hujan baru saja berhenti. Menyisakan titik hujan di ujung dedaunan. Langit berubah biru cerah. Pemakaman masih ramai pelayat. Nenek Senja masih menangis saat seorang tetangga menyalami. Rio jongkok terdiam di samping pusara Senja. Tak dihiraukan para tetangga yang ingin mengajaknya bersalaman. Rio masih bertahan saat kerumunan para pelayat sudah pulang. Kenangan bersama Senja datang tiba-tiba seperti video yang sedang diputar. Terkadang Rio tertawa kecil, terkadang ia menangis. Rio mengangkat kepala. Menghapus sisa airmatanya. Di ujung sana, sebuah pelangi muncul. warna merah, kuning, hijau terlihat sangat indah di langit yang berwarna biru cerah. Rio teringat kalimat Senja semalam, Ayah bisa lihat senja juga ibu di balik pelangi indah itu. Kalimat terakhir Senja yang akan selalu Rio ingat.
Hidup harus terus berlanjut, seberapa menyakitkan aku kehilangan Febri dan Senja. Biarkan waktu yang menjadi obat atas semua luka dan pedih ini, Mereka akan selalu hidup di dalam hatiku, Rio berucap mantap, menguatkan diri. Pelangi di atas sana masih tercipta sempurna saat Rio melangkah meninggalkan pemakaman. Tetesan hujan yang diam di atas dedaunan tampak berkilauan ditimpa cahaya matahari.
Cerpen Karangan: Nuril Islam

Kamis, 08 Oktober 2015

Anda Suka Selfie? Ketahui Baik dan buruknya disini


“SELFIE”, Pengertian, Sejarah dan dampak psikologisnya

Perkembangan Selfie

Munculnya genersi Smartphone dengan kamera depan bisa jadi merupakan awal meningkatnya budaya selfie yang berkembang dan menyebar dengan sangat cepat ditengah masyarakat. Cuma dibutuhkan beberapa detik untuk mengambil photo dan menyebarkannya di media sosial yang akan dilihat oleh ratusan, ribuan bahkan mungkin jutaan orang pada saat yang sama di tempat dan situasi yang berbeda. Kalau anda melanjutkan membaca, anda akan tahu baik dan buruknya “Selfie” dalam tulisan berikut.
Kemudahan akses internet dan menjamurnya media sosial menjadikan budaya ini demikian mudah menyebar. Siapa saja bisa melakukan selfie. Mulai dari pembantu rumah tangga, anak sekolah, eksekutif kantoran bahkan selebritis yang photo-photonya sudah sangat sering di muat di media. Rihanna, Justin Bieber, Madonna dan Lady Gaga pun dikenal sebagai selebriti yang suka selfie dan rajin meng-upload photo selfienya di media sosial.

picture credit to mirrordotcodotuk
Pencarian kata kunci Selfie pada applikasi photosharing Instagram misalnya; menghasilkan 23 juta photo dengan hastag #selfie dan 51 juta photo dengan hastag #me. mulai dari photo si Euis di Cimahi, Bandung sampai photo si Alice di Chicago, Amerika serikat.
Sebetulnya, kepuasan macam apa sih yang didapat orang-orang yang melakukan Selfie ?. hingga banyak yang sangat suka selfie tanpa memperhitungkan dampak baruknya. Bahkan secara tidak langsung sering hampir mencelakakan dirinya sendiri atau orang lain saat berusaha mengambil photo selfie yang sempurna, bahkan tanpa mempertimbangkan tempat dan situasinya. Apakah semata-mata karena keinginan mendapatkan pujian? atau mungkin karena kepuasan yang didapat saat mendapatkan “Like” dan komentar kagum teman-temannya ketika photonya dibagikan di media sosial?. Atau sekedar mengikuti trend tanpa mengetahui baik dan buruknya selfie?.
Lihatlah beberapa headline surat khabar yang memberitakan kejadian-kejadian akibat keranjingan selfie di beberapa tempat :

Pengertian Selfie

Sebelum kita bahas lebih lanjut ada baiknya kita bahas dulu mengenai apa yang dimaksud dengan Selfie. Menurut Wikipedia 2014 Selfie adalah kependekan dari “Self-potrait photograph” atau photo yang diambil sendiri, biasanya diambil dengan kamera telepon genggam atau kamera genggam dan diambil secara vertical.

Sejarah Selfie

Jika kita bicara mengenai siapa dan photo selfie mana yang pertama?. mungkin kita bisa mengacu pada photo Robert Cornelius – Sang penemu camera pada tahun 1839, tapi hal ini juga masih banyak menjadi bahan perdebatan, termasuk keraguan yang diungkapkan oleh Dr. Michael Pritchard; Akhli sejarah sekaligus direktur Royal Photographic Society yang meragukan apakah photo Robert Cornelius mengambil photo itu sendiri atau diambil dengan bantuan asistennya.
“Nampaknya photo selfie pertama baru lahir beberapa tahun kemudian, mengingat kamera dengan timer otomatis baru diketemukan sekitar tahun 1880. beberapa kamera juga dilengkapi dengan kabel panjang yang memungkinkan penggunanya menekan tombol dari jarak yang dibutuhkan”, unggkap Dr. Michael Pritchard.

Era Photocard, Photobooth dan Polaroid

Kenyataaannya, jauh sebelum ditemukannya internet, berbagai photo diri juga sudah banyak dilakukan walaupun penyebarannya tentu saja dengan cara dan media yang berbeda dari yang terjadi di masa kini. Sekitar tahun 1860 an ada kebiasaan yang cukup populer untuk saling berbagi photocard berukuran mini. Kecenderungan ini berlanjut dengan diperkenalkannya kamar photo mini (Photo booth) pada tahun 1880. Photobooth juga sempat merebak di Indonesia dan sangat mudah dijumpai di pojok-pojok mall dan pusat perbelanjaan dan banyak dimanfaatkan para remaja kita dalam melampiaskan ekpressi narsisnya.
Tidak lengkap rasanya jika jika bicara mengenai sejarah selfie tanpa bicara mengenai kelahiran Polaroid pada tahun 1948 walaupun awal kemunculannya belum betul-betul bisa menghasilkan photo instan. Sampai mereka menyempurnakan produknya sehingga benar-benar bisa menghasilkan photo instan dan bisa digunakan untuk mengambil photo dari jarak sejangkauan tangan.

Selfie dan sifat narsis.

Kemudahan aksses media sosial dimasa sekarang meyebabkan kita lebih sadar penampilan yang membawa kita pada obsesi untuk tampil sempurna dan dan sifat narsis pada beberapa orang. Orang-orang yang narsis menikmati kebahagian yang luar biasa saat tampilan phisik, Keberhasilan dan suksesnya mendapat perhatian dari orang lain. Mereka sering mendapatkan kepuasan dan kesenangan dari rasa kagum orang lain atas penampilan phisiknya. Sarana untuk mendapatkan kepuasan tersebut pada masa kini dicapai dengan memamerkan photo-photo selfie-nya di Facebook, Path, Twitter atau Instagram.

Dampak buruk Selfie

Obsesi selfie yang belebihan juga bisa mengakibatkan kelainan jiwa yang serius seperti yang dilansir oleh media online mirror.co.uk. Danny Bowman seorang remaja beruia 19 tahun menjadi demikian terobsesi untuk ber-selfie-ria sehingga dia bisa menghabiskan 10 jam tiap harinya dengan mengambil kurang lebih 200 photo dirinya demi untuk mendapatkan photo selfie yang sempurna.
Sebuah obsesi yang dipicu oleh keinginan untuk membuat para remaja putri tertarik kepadanya. Juga kepercayaan palsu bahwa penampilan yang sempurna adalah modal utama untuk mendapatkannya. Karena gagal mendapatkan photo selfie yang dianggapnya sempurna dia mencoba melakukan bunuh diri dengan meminum pil hingga overdosis. Beruntung dia bisa diselamatkan oleh Ibunya.
“Saya terus menerus berusaha mendapatkan photo selfie yang sempurna dan saat saya tidak juga mendapatkannya, saya ingin segera mengakhiri hidup. Saya kehilangan teman, pendidikan, kesehatan dan hampir saja kehilangan hidup saya”, katanya.
Saat kita mendapatkan sesuatu yang hebat dan patut dirayakan – apa yang biasa kita lakukan? Kita ber-selfie-ria dan meng-uploadnya agar tiap orang bisa melihatnya. Menyenangkan rasanya mendapati orang terkagum-kagum menyaksikan keberhasilan kita. Tapi dunia ini tidak beredar disekelilingmu sendirian, harus selalu ada batasan antara yang sedekar ingin berbagi atau menyombongkan diri pada tiap orang disetiap kesempatan.

Selfie dan Eksplorasi diri.

Berita baiknya Selfie juga bukan sekedar narsis. Ia juga bisa jadi sarana untuk membantu meningkatkan ekplorasi dan ekpresi diri. Photo Sefie yang mendapatkan banyak komentar positif dan disukai (like) bisa membantu remaja untuk meningkatkan rasa percaya dirinya tersambung dengan dunianya.
Menurut Today Health .edisi 2014, Selfie yang dilakukan dalam batas-batas yang wajar bisa meningkatkan rasa menghargai diri sendiri dan meningkatkan pemberdayaan diri. Selfie juga bisa meningkatkan penampilan diri pelakunya karena bisa menyesuikan diri dengan tampil sesuai dengan yang dapat diterima dan disukai secara luas. Jadi buat anda yang suka selfie, tetap ingat baik buruknya baik sebelum mencari lokasi selfie yang sempurna maupun dampak psikologisnya. Jangan sampai karena photo selfie anda kurang dapat like dan komen yang positif lantas anda jadi depresi dan putus asa.

Aku Kamu dan Jarak


Dia bukan penghalang untuk melihatmu saat ku rindu
Dia bukan pembatas dinding pemisah satu sama lain
Dia bukan pengukur seberapa jauh perasaan kita

Dalam ratusan kilometer membentang jauh
Selalu kutitipkan rindu pada hembusan angin
Selalu kubincangkan namamu disela doa untuk memelukmu
Selalu kupinta bintang malam memastikan kalau dirimu baik-baik saja

Dengan signal-signal kita beradu diujung suara
Dengan hujan rindu kita berrintikan bersama pelangi
Aku, satu perasaan yang menyatu dihatimu
Kamu, satu jiwa yang melebur diragaku
Jarak, satu jengkal yang menjaga interaksi kita

Yah... aku kamu dan jarak akan selalu bersama
Aku kamu dan jarak akan selalu berkesinambungan

Terimakasih telah membaca, semoga bermanfaat, semoga menginspirasi pasangan yang melakukan hubungan LDR dan semoga membuat seseorang yang ragu menjalani hubungan LDR menjadi yakin menjalanunya :) Baca juga

Sabtu, 15 Agustus 2015

Wisata candi borobudur

Sejarah Candi Borobudur

Borobudur dibangun sekitar tahun 800 Masehi atau abad ke-9. Candi Borobudur dibangun oleh para penganut agama Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra. Candi ini dibangun pada masa kejayaan dinasti Syailendra. Pendiri Candi Borobudur yaitu Raja Samaratungga yang berasal dari wangsa atau dinasti Syailendra. Kemungkinan candi ini dibangun sekitar tahun 824 M dan selesai sekitar menjelang tahun 900-an Masehi pada masa pemerintahan Ratu Pramudawardhani yang adalah putri dari Samaratungga. Sedangkan arsitek yang berjasa membangun candi ini menurut kisah turun-temurun bernamaGunadharma.
Candi Borobudur
Kata Borobudur sendiri berdasarkan bukti tertulis pertama yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Britania Raya di Jawa, yang memberi nama candi ini. Tidak ada bukti tertulis yang lebih tua yang memberi nama Borobudur pada candi ini. Satu-satunya dokumen tertua yang menunjukkan keberadaan candi ini adalah kitab Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365. Di kitab tersebut ditulis bahwa candi ini digunakan sebagai tempat meditasi penganut Buddha.
Arti nama Borobudur yaitu "biara di perbukitan", yang berasal dari kata "bara" (candi atau biara) dan "beduhur" (perbukitan atau tempat tinggi) dalam bahasa Sansekerta. Karena itu, sesuai dengan arti nama Borobudur, maka tempat ini sejak dahulu digunakan sebagai tempat ibadat penganut Buddha.
Candi ini selama berabad-abad tidak lagi digunakan. Kemudian karena letusan gunung berapi, sebagian besar bangunan Candi Borobudur tertutup tanah vulkanik. Selain itu, bangunan juga tertutup berbagai pepohonan dan semak belukar selama berabad-abad. Kemudian bangunan candi ini mulai terlupakan pada zaman Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-15.
Pada tahun 1814 saat Inggris menduduki Indonesia, Sir Thomas Stamford Raffles mendengar adanya penemuan benda purbakala berukuran raksasa di desa Bumisegoro daerah Magelang. Karena minatnya yang besar terhadap sejarah Jawa, maka Raffles segera memerintahkan H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki lokasi penemuan yang saat itu berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
Cornelius dibantu oleh sekitar 200 pria menebang pepohonan dan menyingkirkan semak belukar yang menutupi bangunan raksasa tersebut. Karena mempertimbangkan bangunan yang sudah rapuh dan bisa runtuh, maka Cornelius melaporkan kepada Raffles penemuan tersebut termasuk beberapa gambar. Karena penemuan itu, Raffles mendapat penghargaan sebagai orang yang memulai pemugaran Candi Borobudur dan mendapat perhatian dunia. Pada tahun 1835, seluruh area candi sudah berhasil digali. Candi ini terus dipugar pada masa penjajahan Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1956, pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO untuk meneliti kerusakan Borobudur. Lalu pada tahun 1963, keluar keputusan resmi pemerintah Indonesia untuk melakukan pemugaran Candi Borobudur dengan bantuan dari UNESCO. Namun pemugaran ini baru benar-benar mulai dilakukan pada tanggal 10 Agustus 1973. Proses pemugaran baru selesai pada tahun 1984. Sejak tahun 1991, Candi Borobudur ditetapkan sebagai World Heritage Site atau Warisan Dunia oleh UNESCO.

Candi Borobudur

Arsitektur Candi Borobudur
Candi Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah, sekitar 40 km dari Yogyakarta. Candi Borobudur memiliki 10 tingkat yang terdiri dari 6 tingkat berbentuk bujur sangkar, 3 tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Di setiap tingkat terdapat beberapa stupa. Seluruhnya terdapat 72 stupa selain stupa utama. Di setiap stupa terdapat patung Buddha. Sepuluh tingkat menggambarkan filsafat Buddha yaitu sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha di nirwana. Kesempurnaan ini dilambangkan oleh stupa utama di tingkat paling atas. Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala yang menggambarkan kosmologi Buddha dan cara berpikir manusia.
Di keempat sisi candi terdapat pintu gerbang dan tangga ke tingkat di atasnya seperti sebuah piramida. Hal ini menggambarkan filosofi Buddha yaitu semua kehidupan berasal dari bebatuan. Batu kemudian menjadi pasir, lalu menjadi tumbuhan, lalu menjadi serangga, kemudian menjadi binatang liar, lalu binatang peliharaan, dan terakhir menjadi manusia. Proses ini disebut sebagai reinkarnasi. Proses terakhir adalah menjadi jiwa dan akhirnya masuk ke nirwana. Setiap tahapan pencerahan pada proses kehidupan ini berdasarkan filosofi Buddha digambarkan pada relief dan patung pada seluruh Candi Borobudur.
Bangunan raksasa ini hanya berupa tumpukan balok batu raksasa yang memiliki ketinggian total 42 meter. Setiap batu disambung tanpa menggunakan semen atau perekat. Batu-batu ini hanya disambung berdasarkan pola dan ditumpuk. Bagian dasar Candi Borobudur berukuran sekitar 118 m pada setiap sisi. Batu-batu yang digunakan kira-kira sebanyak 55.000 meter kubik. Semua batu tersebut diambil dari sungai di sekitar Candi Borobudur. Batu-batu ini dipotong lalu diangkut dan disambung dengan pola seperti permainan lego. Semuanya tanpa menggunakan perekat atau semen.
Sedangkan relief mulai dibuat setelah batu-batuan tersebut selesai ditumpuk dan disambung. Relief terdapat pada dinding candi. Candi Borobudur memiliki 2670 relief yang berbeda. Relief ini dibaca searah putaran jarum jam. Relief ini menggambarkan suatu cerita yang cara membacanya dimulai dan diakhiri pada pintu gerbang di sebelah timur. Hal ini menunjukkan bahwa pintu gerbang utama Candi Borobudur menghadap timur seperti umumnya candi Buddha lainnya.

Selanjutnya ini adalah foto foto saya ketika study tour bersama rombongan SMPN 2 JATIREJO bersama kawan kawan.










 
Nah itulah moment moment ketika saya ada di jogja. Benar benar menyenangkan. 😄😄😃